Rabu, 21 Desember 2011

KIDUNG KASEPEN
Adheming wengi
Kaya dene adheming kalbu iki
Ngalamun tanpa nyata
Nyawang petenging mega
Dhewe ing kene
Tansah setya ngenteni
Tekane sliramu sing dak tresnani
Bebarengan lumunturing maruta
Aku titip salam tresna
Kanggo sliramu sing dak anti
Saben wengi mung bisa ngenteni
Tanpa ngerti kapan tekane sliramu
Ing kene papan iki
Sing wis dadi saksi
Yen sliramu bakal bali
Dadi panglipuring ati

(Putri Jati Nur Intan)
Penjebar Semangat No. 11-12 Maret 2011



Cerita kesepian
Dinginnya malam ini
Sedingin hatiku saat ini
Melamun tanpa nyata
Memandang gelapnya malam ini
Sendiri disini
Selalu setia menunggu
Menunggu dirimu yang kusayang
Bersama hembusan angin
Aku titip salam sayang
Untuk dirimu yang ku tunggu
Setiap malam hanya bisa menanti
Tanpa tahu kapan dirimu kan datang
Datang disini, ditempat ini
Yang telah menjadi saksi
Jika nanti dirimu kembali
Menjadi penyejuk hati






Analisis geguritan
Geguritan diatas menceritakan tentang kerinduan seseorang terhadap kekasihnya. Geguritan tersebut seolah-olah menjadi nyata ketika pengambilan setting waktu berada dimalam hari dan penokohan menggunakan kata ‘aku’, kata ‘aku’ bukan hanya dialami oleh sang pengarang namun juga bisa dialami oleh sang pembaca.
Selain setting waktu, setting tempat ‘ing kene, ing papan iki’ juga menjadi bagian yang bermakna puitis, setting tempat ini menggambarkan seolah-olah telah terjadi peristiwa atau kejadian khusus diantara pasangan tersebut.
Dalam geguritan diatas memiliki alur cerita yang runtut, pertama dari perkenalan yaitu Adheming wengi, Kaya dene adheming kalbu iki, Ngalamun tanpa nyata, Nyawang petenging mega, Dhewe ing kene. Selanjutnya, inti permasalahan yaitu Tansah setya ngenteni, Tekane sliramu sing dak tresnani, Bebarengan lumunturing maruta, Aku titip salam tresna, Kanggo sliramu sing dak anti, Saben wengi mung bisa ngenteni, Tanpa ngerti kapan tekane sliramu. Yang terakhir bagian penyelesaian yaitu Ing kene papan iki, Sing wis dadi saksi, Yen sliramu bakal bali, Dadi panglipuring ati.
Tokoh yang diceritakan geguritan diatas adalah seseorang yang memiliki rasa sabar, serta setia menunggu datangnya kekasih, walaupun tidak tahu kapan kekasihnya datang, tokoh tersebut akan tetap menunggu karena mereka telah membuat janji di tempat mereka bertemu.
Gaya bahasa yang digunakan dalam pembuatan geguritan diatas diambil dari bahasa sehari-sehari masyarakat jawa. Hanya terdapat beberapa majas personifikasi Bebarengan lumunturing maruta, Aku titip salam tresna, arti kata tersebut seolah-olah angin mampu mengantarkan salam saying kepada kekasihnya. Selain kata itu juga ada kata Ing kene papan iki, Sing wis dadi saksi, artinya tempat seolah-olah mampu menjadi saksi bertemunya sepasang kekasih tersebut.
Geguritan diatas juga menggunakan majas perbandingan, terdapat dalam kalimat Adheming wengi, Kaya dene adheming kalbu iki, kata yang ditebalkan tersebut sebagai pertanda adanya perbandingan antara dinginnya malam dan dinginnya hatiku.
Dari segi gaya bunyi, geguritan diatas memiliki rima akhir dalam baris, yakni:
Ing kene papan iki
Sing wis dadi saksi
Yen sliramu bakal bali
Dadi panglipuring ati
Kalimat diatas sudah jelas rima yng dimaksud adalah sama-sama berakhiran ‘I’.
Setelah kita mengetahui makna geguritan diatas, amanat yang kita ambil adalah sabarlah menunggu kedatangan seseorang dan jadilah orang setia terhadap pasangan.

0 comments:

Posting Komentar