ANALISIS GEGURITAN
“KIDUNG KASEPEN”
BERDASARKAN BIDANG FONOLOGI
Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Akhir Semester tahun 2011-2012
yang diselenggakan oleh
Universitas Negeri Semarang
Universitas Negeri Semarang
Dosen Pengampu
Sungging Widagdo, S.Pd.
Oleh
Fitri Febriyanti
2611411023
Sastra Jawa
Jurusan Bahasa Dan Sastra Jawa
Fakultas Bahasa Dan Seni
Universitas Negeri Semarang
Tahun Ajaran 2011-2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulilah selalu penulis ucapkan ke hadirat Allah Subkhanahu wa Ta`ala yang telah melimpahkan banyak nikmat kepada kita semua. Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada uswatun hasanah kita Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wassalam. Banyak hambatan yang penulis hadapi selama penulisan karya ilmiah ini. Namun demikian, berkat Allah dan bantuan berbagai pihak, penulisan makalah ini dapat selesai dengan baik.
Saya merasa bangga mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk mengikuti Ujian Akhir Semester Gasal tahun Ajaran 2011-2012 yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang, dengan memenuhi syarat tugas akhir yang telah diajukan yaitu Menganalisis Geguritan Kidung Kasepen Berdasarkan Aspek Fonologi Berupa Tulisan Fonetik, Unsure Segmental Dan Unsure Suprasegmental. Untuk itu, atas segala bentuk bantuan selama ini, disampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
· Bapak Sungging Widagdo, selaku pembimbing dan pengampu mata kuliah Fonologi di Universitas Negeri Semarang yang telah berkenan memberikan arahan secara teknik.
· Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya telah berusaha menyelesaikan makalah ini dengan sebaik mungkin. Namun demikian, saya sadar bahwa makalah ini memiliki banyak kesalahan dan kekurangan, Berdasar dari itu saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang budiman untuk dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan saya dalam menyusun makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amin.
Semarang, 30 Desember 2011
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita tahu bahwa ejaan tumbuh beratus-ratus tahun, bahkan beribu-ribu tahun setelah bahasa lisan ada. Bahasa lisan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa ejaan. Ejaan diciptakan untuk melambangkan bunyi-bunyi bahasa, bukan sebaliknya. Jadi, tidaklah ada alasan kuat bahwa bahasa (bahasa lisan, pen) harus mengikuti dan tunduk pada ejaan (bahasa tulis, pen).
Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar adalah dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental, ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.
Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat, bagaimana memenggal suku kata, bagaimana menuliskan singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan sebagainya. Perlambangan unsure suprasegmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada, durasi, jedah dan intonasi. Perlambangan unsure suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau pungtuasi.
Tata cara penulisan bunyi ujar ini bias memanfaatkan hasil kajian fonologi,terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian fonemik terhahadap ejaan suatu bahasa disebut ejaan fonemis.
Bahasa mana pun selalu berubah, termasuk bahasa Jawa. Setelah berkembang sedemikian rupa hingga saat ini, maka kesusastraan tulis dabat dibedakan menjadi dua golongan besar. Golongan itu adalah gancaran (prosa) dan geguritan (puisi). Puisi sangat disenangi oleh masyrarakat sejak jaman kuno hingga sekarang. Puisi di jaman kuno disebut kakawin karena menggunakan bahasa kawi, puisi dijaman pertengahan adalah kidung, kemudian yang terkenal sekarang adalah puisi modern atau geguritan gagrak anyar. Geguritan gagrag anyar keluar dari aturan-aturan seperti dalam tembang, parikan, wangsalan dan lain-lainnya. Berkembangnya geguritan gagrag anyar bersamaan dengan perkembangan kesusastraan Indonesia. Keindahan geguritan gagrag anyar tidak pada pergulatan bahasa, tetapi lebih pada isinya untuk mengekspresikan perasaan jiwa (Dr. Purwadi, M.Hum, 2009:26).
Dalam kesusastraan satu sistem ejaan disesuaikan dengan bahasa yang dilambangkan pada waktu ejaan itu diciptakan. Oleh karena itu, ejaanlah yang harus disesuaikan terus-menerus seiring dengan perkembangan atau perubahan bunyi pada bahasa yang dilambangkan, bukan sebaliknya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas, yaitu :
1. Bagaimana lambang fonetis yang digunakan dalam geguritan Kidung Kasepen ?
2. Bagaimanakah unsur segmental dalam menganalisis geguritan Kidung Kasepen?
3. Bagaimana unsur suprasegmental dalam menganalisis geguritan Kidung Kasepen?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah mengidentifikasi dan menjelaskan bagaimana lambang fonetis, unsur segmental dan unsure suprasegmental dari geguritan Kidung Kasepen.
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
A. TULISAN FONETIK
Dalam studi linguistic dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan, di antaranya adalah tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis, dan system aksara tertentu untuk ejaan ortografis.
Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara lain, yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlh modifikasi terhadap huruf latin itu. Hal ini perlu dilakukan karena abjad latin itu hanya 26 buah huruf atau grafem.
Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Atau, kalau dibalik, setiap buunyi bahasa, sekecil apa pun bedanya dengan bunyi yang lain, akan juga dilambangkan hanya dengan satu huruf atau lambang (abdul chaer, 2007:109-110).
Jumlah vocal bahasa jawa sama dengan jumlah vocal dalam bahasa Indonesia, yaitu sepuluh: [I, i, e, ε, a, ә, o,
, u, U] (Marsono, 2008:44-46). Contoh vocal atau monoftong itu dalam kata terdapat table di bawah ini:
Vocal bahasa jawa | ||
No. | Vocal | Contoh |
1 | [I] | Kulit ‘kulit’ Arit ‘sabit’ |
2 | [i] | Iki ‘ini’ Cilik ‘kecil’ |
3 | [e] | Eling ‘ingat’ Esuk ‘pagi’ |
4 | [ε] | Edi ‘elok’ Lengket ‘lekat’ |
5 | [ә] | Edol ‘jual’ Elas ‘butir’ |
6 | [a] | Dadi ‘jadi’ Anyar ‘baru |
7 | [o] | Obah ‘gerak’ Loro ‘dua’ |
8 | [ | Obor ‘suluh’ Amot ‘muat’ |
9 | [u] | Upa ‘butir nasi’ Gulu ‘leher’ |
10 | [U] | Bagus ‘tampan’ Irus ‘cedok’ |
Font lambang fonetis yang digunakan di salah satu situs web adalah fonetis Regular. Font ini melambangkan sistem fonetis yang dibakukan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dan berlaku pada Bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa daerah di Indonesia, termasuk bahasa Jawa.
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
B. UNSUR SEGMENTAL
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan apakah suatu bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya.
Fonem segmental adalah fonem yang mempunyai urutan atau deretan sintagmatik dan fonem segmental terdiri atas vokal dan konsonan. Dapat dikatakan pula bunyi segmental merupakan bunyi yang dapat disegmentasikan.
Fonem dapat dibagi atas vokal dan konsonan. Pembedaan kedua fonem ini didasarkan ada tidaknya hambatan pada alat bicara. Sebuah bunyi disebut vokal apabila tidak ada hambatan pada alat bicara. Sebuah bunyi disebut konsonan apabila dibentuk dengan cara menghambat arus udara pada sebagian alat bicara.
Cara penulisan bunyi segmental adalah minimal terdiri dari satu bunyi vocal dan konsonan yang kemudian dipisahkan dengan tanda [..-..] misalnya, pada kata “kata” yang dapat disegmentasikan menjadi dua suku kata/silabel yaitu “ka-ta” serta dapat disegmentasikan kembali menjadi empat fona yaitu “k-a-t-a”..
C. UNSUR SUPRASEGMENTAL
Bunyi suprasegmental ialah bunyi yang menyertai bunyi segmental. Seperti juga bunyi segmental yang telah diuraikan diatas, bunyi suprasegmental dapat diklasifikasikan menurut cirri-cirinya waktu diucapkan. Cirri-ciri bunyi suprasegmental waktu diucapkan itu disebut cirri-ciri prosodi (prosodic features) (cf. Bloch & George L. Trager, 1942:34; Samsuri, 1970:6-7), dan dapat diklasifikasin sebagai berikut:
1. Panjang atau Kuantitas
Panjang menyangkut lamanya bunyi diucapkan. Suatu bunyi segmental yang waktu diucapkan alat-alat ucap dipertahankan cukup lama, pastilah disertai bunyi suprasegmental dengan cirri prosodi yang panjang. Sebaliknya, jika alat ucap dalam membentuk bunyi segmental itu tidak dipertahankan cukup lama hanya sebentar, maka bunyi suprasegmental penyertanya ialah dengan cirri prosodi pendek.
2. Nada (pitch)
Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, pastilah dibarengi dengan bunyi suprasegmental dengan cirri prosodi nada tinggi. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah frekuensi getarannya nada yang menyertainya juga semakin rendah.
Nada (yang lazim dipakai dalam bahasa-bahasa nada) dapat dibedakan menjadi lima (cf. Verhaar, 1997:49; Samsuri, 1978:123), yaitu:
a.
Nada naik, yaitu nada yang meninggi, ditandai dengan [….].
b.
Nada datar ditandai dengan [….].
c.
Nada turun, yaitu nada yang merendah, ditandai dengan [….].
d.
Nada turun naik, yaitu nada yang merendah kemudian meninggi, ditandai dengan [….]
e.
Nada naik turun, yaitu nada yang meninggi kemudian merendah, ditandai dengan [….]
3. Tekanan (stress)
Tekanan menyangkut keras lunak (lemah)-nya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan ketegangan kekuatan arus udara sehingga menyebabkan amplitudonya lebar, pasti dibarengi dengan bunyi suprasegmental dengan cirri prosodi tekanan keras. Sedang, suatu bunyi segmental yang diucapkan tanpa ketegangan arus udara sehingga amplitudonya tidak lebar atau sempit, pasti dibarengi dengan bunyi suprasegmental cirri prosodi tekanan lunak (lemah).
Demikianlah, maka tekanan dibedakan atas tekanan keras yang ditandai dengan [!….] (di depan atas sebelah kiri dari suku kata yang mendapat tekanan keras) dan tekanan lunak (lemah) (cf. Samsuri, 1978:123).
4. Jeda atau persendian (juncture)
Jeda menyangkut perhentian bunyi dalam bahasa. Suatu bunyi segmental dalam suku kata, kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana; pastilah disertai dengan bunyi suprasegmental perhentian di sana-sini. Bunyi suprasegmental yang berciri prosodi perhentian di sana-sini itu disebut jeda atau persendian. Bahasa yang satu dengan yang lain, jedanya berbeda-beda; ada yang jedanya jelas, ada yang mungkin tidak jelas (Bloch & George L. Trager, 1942:35-36).
Menurut tempatnya jeda dapat dibedakan menjadi empat (cf. Samsuri, 1970:15-16) dan biasanya ditandai sebagai berikut:
a. Jeda antar suku kata dalam kata ditandai dengan [+].
b. Jeda antar kata dalam frasa ditandai dengan [/].
c. Jeda antar frasa dalam klausa ditandai dengan [//].
d. Jeda antar kalimat dalam wacana ditandai dengan [#].
BAB III
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
KIDUNG KASEPEN
Adheming wengi
Kaya dene adheming kalbu iki
Ngalamun tanpa nyata
Nyawang petenging mega
Dhewe ing kene
Tansah setya ngenteni
Tekane sliramu sing dak tresnani
Bebarengan lumunturing maruta
Aku titip salam tresna
Kanggo sliramu sing dak anti
Saben wengi mung bisa ngenteni
Tanpa ngerti kapan tekane sliramu
Ing kene papan iki
Sing wis dadi saksi
Yen sliramu bakal bali
Dadi panglipuring ati
(Putri Jati Nur Intan)
Penjebar Semangat No. 11-12 Maret 2011
Makalah ini disusun untuk menganalisis salah satu geguritan, berikut merupakan penganalisisan geguritan gagrag anyar berjudul Kidung Kasepen yang telah diterbitkan dalam salah satu media:
KIDUNG KASEPEN
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [kidUŋ kasәpεn] | |
Bunyi segmental | Ki-du-ng ka-se-pen | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Ki:dung ka:sepen |
Nada | ||
Tekanan | !Kidung kasepen | |
Jeda | Kidung / kasepen | |
Adheming wengi
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [adhәmIŋ weŋi] | |
Bunyi segmental | a-dhem-ing we-ngi | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Adheming wengi |
Nada | ||
Tekanan | Adheming wengi | |
Jeda | Adheming / wengi // | |
Kaya dene adheming kalbu iki
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [k | |
Bunyi segmental | Ka-ya de-ne a-dhem-ing kal-bu i-ki | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Kaya dene adheming kalbu iki: |
Nada | ||
Tekanan | Kaya dene a!dheming !kalbu iki | |
Jeda | Kaya dene / adheming kalbu iki | |
Ngalamun tanpa nyata
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [ŋalamun tanp | |
Bunyi segmental | Nga-la-mun tan-pa nya-ta | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Ngalamun tanpa nyata: |
Nada | ||
Tekanan | Ngalamun !tan!pa !nya!ta | |
jeda | Ngalamun / tanpa nyata // | |
Nyawang petenging mega
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [ | |
Bunyi segmental | Nya-wa-ng pe-te-ng-ing me-ga | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Nyawang petenging mega: |
Nada | ||
Tekanan | Nyawang petenging !me!ga | |
jeda | Nyawang / petenging mega | |
Dhewe ing kene
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [dhεwe Iŋ kәne] | |
Bunyi segmental | Dhe-we i-ng ke-ne | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Dhewe: ing kene |
Nada | ||
Tekanan | !dhe!we ing kene | |
jeda | Dhewe / ing kene // | |
Tansah setya ngenteni
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [tansah sәty | |
Bunyi segmental | Tan-sah se-tya ng-en-te-ni | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Tansah setya: ngenteni |
Nada | ||
Tekanan | Tansah se!tya! ngenteni | |
jeda | Tansah setya / ngenteni | |
Tekane sliramu sing dak tresnani
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [tәkane sliramu sIŋ da? trәsnani] | |
Bunyi segmental | Te-ka-ne sli-ra-mu si-ng dak tres-na-ni | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Tekane sliramu: sing dak tresnani |
Nada | ||
Tekanan | Tekane sliramu sing dak !tres!na!ni | |
jeda | Tekane sliramu / sing dak tresnani // | |
Bebarengan lumunturing maruta
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [Bebarәŋan lumUnturIŋ marut | |
Bunyi segmental | Be-ba-re-ng-an lu-mun-tur-ing ma-ru-ta | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Bebarengan lumunturing maruta: |
Nada | ||
Tekanan | Bebarengan lumunturing !ma!ru!ta | |
jeda | Bebarengan / lumunturing maruta | |
Aku titip salam tresna
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [aku titIp salam tresn | |
Bunyi segmental | a-ku ti-tip sa-lam tres-na | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Aku titip salam tresna |
Nada | ||
Tekanan | Aku titip salam tresna | |
jeda | Aku titip / salam tresna // | |
Kanggo sliramu sing dak anti
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [kaŋgo sliramu sIŋ da? anti] | |
Bunyi segmental | Ka-ng-go sli-ra-mu dak an-ti | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Kanggo sliramu sing dak anti |
Nada | ||
Tekanan | Kanggo sliramu sing dak anti | |
jeda | Kanggo sliramu / sing dak anti | |
Saben wengi mung bisa ngenteni
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [saben wәŋi mUŋ bis | |
Bunyi segmental | Sa-ben we-ngi mu-ng bi-sa ng-en-te-ni | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Saben wengi: mung bisa ngenteni |
Nada | ||
Tekanan | Saben wengi mung bisa ngenteni | |
jeda | Sabe wengi / mung bisa ngenteni// | |
Tanpa ngerti kapan tekane sliramu
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [tanp | |
Bunyi segmental | Tan-pa ng-er-ti ka-pan te-ka-ne sli-ra-mu | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Tanpa ngerti kapan tekane sliramu |
Nada | ||
Tekanan | Tanpa ngerti !ka!pan tekane sliramu | |
jeda | Tanpa ngerti / kapan tekane sliramu | |
Ing kene papan iki
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [Iŋ kene papan iki] | |
Bunyi segmental | I-ng ke-ne pa-pan i-ki | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Ing kene: papan iki |
Nada | ||
Tekanan | Ing kene papan !i!ki | |
jeda | Ing kene/ papan iki // | |
Sing wis dadi saksi
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [sIŋ wIs dadi sa?si] | |
Bunyi segmental | Si-ng wis da-di sak-si | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Sing wis dadi saksi |
Nada | ||
Tekanan | Sing wis dadi !sak!si | |
jeda | Sing wis / dadi saksi | |
Yen sliramu bakal bali
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [yen sliramu ba?al bali] | |
Bunyi segmental | Yen sli-ra-mu ba-kal ba-li | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Yen sliramu bakal bali: |
Nada | ||
Tekanan | Yen sliramu bakal bali | |
jeda | Yen sliramu / bakal bali // | |
Dadi panglipuring ati
Jenis analisis | Keterangan | |
Lambang fonetis | [dadi paŋlipurIŋ ati] | |
Bunyi segmental | Da-di pang-li-pur-ing a-ti | |
Bunyi suprasegmental | Panjang/kuantitas | Dadi panglipuring ati |
Nada | ||
Tekanan | Dadi panglipuring !a!ti | |
jeda | Dadi / panglipuring ati # | |
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan paparan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penganalisisan salah satu karya sastra jawa yaitu geguritan gagrag anyar berjudul Kidung Kasepen dilakukan berdasarkan bidang fonologi berupa aspek tulisan ejaannya, kemudian dalam pengucapan kata disertai dengan bunyi segmental untuk memenggal kata-kata dan diikuti dengan bunyi suprasegmental yang berfungsi untuk memperindah atau memberikan nilai estetika pada karya sastra ini .
Tulisan fonetik telah memiliki tata aturan sendiri seperti yang telah ditulis di atas. Sedangkan segmentasi dapat dilakukan dengan pemenggalan kata yang dipisah antar suku atau antar kata. Setiap orang memiliki penafsiran tersendiri dalam pemberian bunyi suprasegmental yang mengikuti bunyi segmental. Bunyi suprasegmental terdiri dari panjang, nada, tekanan dan penjedaan.
B. Saran
Para pembaca diharapkan mampu menganalisis serta mengidentifikasi sebuah karya sastra berdasarkan penulisan fonetik, bunyi segmental dan bunyi suprasegmental seperti yang telah dibahas di atas.
Selain itu penulis harus kritis, teliti dan jeli dalam menganalisis sebuah karya sastra terutama geguritan agar nantinya ilmu yang didapat mampu dikembangkan dan ditularkan kepada pihak lain.
DAFTAR PUSTAKA
Marsono. 2008. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Purwadi. 2009. Sejarah Sastra Jawa Klasik. Yogyakarta: Panji Pustaka
Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta
www.google.com/lambang-fonetis.com dari pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

0 comments:
Posting Komentar